Pages

Tuesday, June 5, 2012

Cerpen

HUJAN

Hujan turun dengan sangat derasnya. Angin bertiup cukup kencang. Matahari tergelincirlah sudah di ufuk barat. Hari pun semakin sore. Angin yang bertiup makin kencang, menambah dinginnya sore yang hujan kali ini.
“Brrr…. Dingin sekali badanku iki…,” ucapku sambil sedikit menggigil.
Aku terjebak di aula sekolah...
Namun hal ini mungkin tidak akan terjadi jika tadi siang aku langsung pulang ke rumah.
Ingin rasanya aku cepat pulang, tapi aku malas berbasah-basahan. Dari jauh aku lihat Agung ngoyos, hujan-hujanan, pulang meuju rumahnya. Terus lewat Ozi mboncengin Aplah pulang. Kemudian Mas-Mas tukang sapu sekolah juga beranjak ke rumah masing-masing.
“Ji,,ayuuh…Pulang!!!” seru salah satu dari mereka di depan gerbang.
Nggih Mas…! Nanti saja kalo hujane sudah kecil…,”sahutku, “hati-hati, Mas..!”
Waktu terus bergulir, hujan kini mulai mengecil diganti menjadi rintik-rintik gerimis. Kusiapkan tas dan barang bawaanku, lalu aku berdiri hendak menuju tempat parkir. Baru saja beberapa langkah dari mulut aula, bergumpal-gumpal butiran hujan jatuh membumi.
Sompret!!! Gak iso pulang aku kalo kayak gini…Ujan terus….!!!
Aku hanya bisa bersungut-sungut sambil menyepak rintikan hujan yang semakin deras.
“Aduh… Gimana ini?? Kok malah hujan lagi..!! Pake tambah angin kenceng segala lagi….!! ” gumamku jengkel.
Hujan dan angin datang beriringan. Malam pun semakin dingin dibuatnya.
Sial ! ! Aku gak bawa jaket lagi. . .
Memang malang nian nasibku ini. Sudah terjebak hujan di aula sekolah nan sepi, masih ditambah kedinginan pula. Lagi nanti pulang, sampai rumah disambut oleh omelan ibu. Memang, kalau tadi siang aku luluskan keinginanku untuk langsung pulang ke rumah, bakalan beda ceritanya.
Aduuh,,,koh perutku jadi panas begini…
Belum habis rasanya kesialanku ini, masih ada saja masalah datang. Lambung beserta jajarannya ramai menggaungkan seruan minta diisi; lapar. Aku memang tak mengira kalau akan sampai sesore ini aku di sekolah. Biasanya kuisi dulu perutku secukup uang di sakuku, jika mau sampai pulang sore. Tapi tadi sinang, seingatku aku hanya menyantap 2 lembar mendoan dan segelas air putih di kantin. Sekarang rasanya perutku seperti belum diisi berhari-hari.
Alhamdulillah,, kayaknya hujan dah berhenti…
Terdengar kumandang adzan ‘Isya. Hujan sudah berhenti. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah, siapa tahu ada orang yang bisa aku tebengin pulang. Aku langsung berjalan ke mushola. Disana kulihat Ali dan Trisno,para penghuni takmir sekolah, bersiap-siap sholat. Aku percepat langkah untuk segera ambil air wudlu.
“Loh, Ji kok kamu belum pulang?” tanya Trisno beberapa saat setelah selesai sholat.
Genahan aku kejebak hujan koh Tris. . Untung saja gak mati lampu. .”
“Mau pulang sama siapa nanti kamu, Ji ?”
“Entah lah Tris, mungkin aku menginap. Tapi kayaknya aku lebih baik pulang saja, kasian yang di rumah.”
“Sepedamu bisa dipake gak? Kalo gak bisa, pake sepedaku saja dulu..”
“Gak lagh Tris, makasih… Aku jalan kaki saja. Aku ke depan dulu yah.”
“Ya sudah hati-hati di jalan Ji…”
Aku berjalan ke depan ruang guru,kemudian aku duduk di pojok kursi. Aku teringat tugas membuat cerpen dari Bu Sri.
Aku belum selesai mengerjakannya.
Aku harus menyelesaikannya malam ini juga, karena besok malam aku masih harus belajar untuk try out Matematika…
Saat sedang asyik-asyiknya dan pusing-pusingnya membikin cerpen, Mas Udin dari belakang mengagetkanku.
“Belum pulang kowe Ji??”
“Belum koh,Mas…Tadi mau pulang kejebak hujan..”
“Yuh pulang sama aku saja…Kebetulan sejalur kan..?”
“Waah,,terima kasih banget loh Mas.”
“Okeh aku mau ambil motorku dulu, kamu bisa tunggu aku di depan gerbang tengah….”
“Ya,Mas..aku juga mau ambil helmku.”
Terima kasih Mas Udin,, panjenengan mau mengantarku. Terima kasih ya ALLAH…Aku masih diberi kesempatan untuk pulang ke rumah malam ini.
Akhirnya tepat pukul setengah sembilan malam aku bisa beranjak pulang ke rumah mbonceng  Mas Udin..

No comments:

Post a Comment